Alasan mengapa Anak Balitaku Suka Merusak Cover Buku - Simply Nurmasari

Alasan mengapa Anak Balitaku Suka Merusak Cover Buku

BAGIKAN:

Share on whatsapp
Share on twitter
Share on facebook
Share on telegram

Setiap kali suasana hening dirumah justru saat itulah kami waspada, lalu kami mencari-cari sedang dimanakah si bayi berada. Benar saja, dia sedang dalam konsentrasi tinggi mengupasi apapun barang yang mempunyai lapisan kertas ataupun selotip. Cover-cover buku toddler kini hampir semuanya terkelupas bahkan sebagian sudah tidak berbentuk cover buku lagi karena seperti halaman kosong. Jika ada paket berlapis selotip, mata dan tangannya terlihat sangat bersemangat melihat target yang bisa di kupas atau di kopek-kopek biasa kami menyebut kebiasaannya itu.

Apa yang terjadi pada anak bungsuku ini adalah pengalaman pertama, karena dulu si kakak tidak melakukan hal ini. Sebenarnya aku paham betul apa yang terjadi pada adek adalah bahwa dia sedang dalam masa sensitive period. Berdasarkan teori Montessori bahwa anak usia 0-6 tahun mempunyai 6 sensitive period, salah satunya ada sensitif pada benda-benda kecil. Aku akan menulis lebih detail lagi tentang apa itu sensitive period diblog selanjutnya.

Dalam hal ini adek selalu tertarik pada ujung-ujung benda yang memang sudah ada tanda-tanda akan mengelupas, seperti contohnya adalah ujung lapisan pada cover buku, kartu-kartu yang dilaminating atau benda-benda yang diselotip.

Lalu mengapa hal ini tidak terjadi pada kakaknya? Sebenarnya kakak juga melewati masa yang sama dengan adek, namun perbedaannya adalah kini aku tidak aktif dan produktif menyediakan kegiatan-kegiatan yang bisa dilakukan adek seperti yang kusiapkan untuk kakaknya. Karena alasan yang sama pulalah, adek tidak mempunyai rutinitas yang jelas setiap harinya lalu akibatnya dia mengerjakan hal-hal yang ditemuinya saat itu. Ini menunjukan bahwa anak-anak sangat butuh kegiatan untuk bereksplorasi. Dan orang dewasa disekitarnya seharusnya menyediakan dan mempersiapkan kegiatan-kegiatan yang menjadi kebutuhan anak. Hal ini biasa di sebut Prepared environment yang akan aku bahas lebih detail di blog selanjutnya.

Hal ini cukup membuatku merasa bersalah sebagai ibu. Seharusnya aku lebih siap menghadapi anak ke-2 namun justru sebaliknya. Tapi merasa bersalah berlarut-larut tidak akan menyelesaikan masalah adek. Maka aku harus memperbaiki diri dan keadaan dengan mulai kembali beraktifitas dengan anak-anak. Maka aku sangat ingin sekali berbagi apa saja kegiatan-kegiatan yang aku buat dan lakukan bersama anak-anak. Semua kegiatan yang aku siapkan adalah yang bertujuan melatih fine motor skill. Seperti misalnya, rubber band rescue, egg rescue, homemade playdough dan marble run. Untuk tutorial kegiatan silakan langsung cek di Montessori kategori.

Selamat membaca, silakan kontak ke DM instagram jika ada hal yang mau didiskusikan. Terima kasih.

Instagram: @slimplynurmasari

Depok, 12 Maret 2021